Senin, 13 Juni 2016

CINTA PERTAMA

Edit Posted by with No comments
Aku mengenalmu ketika disebuah pesta. Pertemuan secara tidak sengaja membawaku lebih dalam untuk mengenalmu malam itu. Dan entah mengapa hati ini merasa aneh, tapi aku suka. Inikah yang dinamakan asmara? Jika iya, dialah orang pertama yang menggetarkan hatiku seperti ini.

“Sampai berjumpa lagi. Namaku Dika Pratama, panggil saja Dika. Senang berjumpa denganmu”

Aku hanya tersenyum. Pertemuan singkat namun mengapa terkesan sekali bagiku?  Hingga akhirnya nama itu yang selalu kuingat dalam hari-hariku. Tetap saja aku tak mengerti perasaan apa yang tengah kurasa. Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu muncul ketika aku mengingat nama itu.


Lucu mungkin rasanya. Sungguh menggelitik hati. Banyak orang mengatakan bahwa masa-masa SMA adalah masa yang paling indah. Inikah yang dimaksud dengan masa indah?  Ketika malaikat cinta memberi perasaan ini. Entahlah.


==***==

“Syifa”

Terdengar suara seseorang yang sepertinya aku mengenalnya, memanggilku yang tengah asik dengan jejaring sosial karena menunggu jemputan di halte sekolah.

“Dika?”

Aku terkejut. Dia dengan seragam putih abu-abunya, semenjak kapan berdiri di ujung sana? Seberapa lama aku sibuk dengan duniaku hingga tak sadar akan kehadirannya.

“Mau bareng pulang?”

“Makasih. Tapi besok-besok aja ya. Aku udah dijemput”

Tampak guratan kekecewaan di wajahnya. Namun dia menutupinya dengan senyuman. Sejujurnya aku ingin sekali menerima tawarannya.

Hingga dua bulan semenjak pertemuan itu, dia sering mengajakku pergi, main kerumahku dan berangkat sekolah bersama. Satu hal yang sama diantara aku dan dia adalah penyuka komik. Jadi kami sering bertukar komik, bahkan dia pernah membelikanku sebuah komik yang limited edition, dan aku memang sangat menginginkannya.

Aku mulai berharap. Berharap nanti kau akan membalas perasaanku. Menemani hariku setiap hari. Membayangkan saja sudah membuatku senang. Yah Dika kau membuatku benar-benar gila. Aku gila karenamu.

==****===

Sore itu langit terlihat mendung. Musim hujan telah datang di bulan Oktober. Belum sempat sampai dirumah, hujan telah turun dengan derasnya. Aku dan Dika waktu itu kebetulan tidak membawa mantel. Sembari menunggu hujan reda, kami mampir di cafe seberang jalan dengan nuansa coklat tuanya.

Menghabiskan waktu dengan secangkir coklat panas dan dengan candaan yang menghiasi sore itu.

“Eh, Dik. Sebentar lagi kan liburan semester. Kamu liburan kemana?”

“Belum ada rencana. Mau main ama aku?”

Aku mengangguk dengan senyum. Tak akan aku menolak ajakannya itu. Dan memang aku berharap seperti itu. Pergi berlibur bersamamu pasti lebih menyenangkan. Tidak terasa waktu berjalan sangat cepat. Hujan diluar sana telah reda dan sudah pukul lima sore. Waktunya pulang!
==**==
Perasaan ini tak jauhnya dari sebuah alunan lagu. Ada nada tinggi dan nada rendah. Ada nada dari gitar, keyboard, bass, dan drum bercampur menjadi satu dan menciptakan irama yang indah.
===**===

Ujian semester telah usai dan liburan telah tiba. Aku selalu menunggu waktu liburan itu. Waktu dimana aku akan menghabiskan waktu dengan Dika, seseorang yang telah aku puja sekian lama.

“Bagaimana nilai rapor nya?” tanyanya

“Lumayan bagus. Tapi jeblok di mata pelajaran matematika” jawabku dengan nada sedih

“Masih ada waktu untuk memperbaikinya. Aku mau kok mengajarimu”

Aku tersenyum simpul. Dan untuk kesekian kalinya aku tak akan menolak tawarannya.

Liburan kali ini sangat menyenangkan bagiku. Bagaimana tidak menyenangkan jika menghabiskan sepanjang waktu dengan orang yang kau puja? Dari mulai menghabiskan hari, hunting komik, nonton kartun bareng, minum coklat panas di cafe, keliling kota tanpa arah, dan kegiatan lain yang jika dilakukan orang akan terlihat biasa saja. Namun bagiku ini lebih dari biasa.

==***==
Waktu terus saja berjalan. Perasaan ini lambat laun semakin lebih banyak lagi seiring dengan kebersamaanmu denganku setiap waktu. Namun bagaimana denganmu?
==***==

Liburan semester telah usai. Andai saja liburan lebih lama lagi. Aku pasti akan lebih senang.

Pagi itu aku telah bersiap dengan seragam putih abu-abu. Aku tak mau datang terlambat, ingin berangkat lebih awal. Memulai semangat baru diawal semester.

Aku mengirimkan pesan singkat untuk Dika “Aku brgkt pgi bareng ayah”.

Seusainya sarapan aku langsung berangkat dengan sepeda motor milik ayah yang kebetulan searah dengan sekolahku ke tempat kerjanya. Keadaan pagi itu disekolah masih sepi, masih belum banyak yang datang. Aku melangkah dengan lenggangnya menuju kelasku yang berada disamping kiri lapangan basket. Sesampainya dikelas malah belum ada yang datang kecuali aku yang pertama kali datang di kelas.

Tak ada yang berubah dari kelas ini selama dua minggu tak dihuni, hanya saja sedikit kotor. Aku menghempaskan diri ke kursi kayu yang selama ini aku tempati dengan Bebi. Kulihat handphone dan melihat pesan singkatku tadi belum terkirim ke Dika. Aku mencoba menghubunginya untuk memastikan bahwa operator sedang ada pemendingan besar-besaran.

Nomer yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Mohon periksa kembali nomer tujuan anda.

Aku bingung. Rasa khawatir pun merasukiku. Tidak biasanya nomer hp nya tidak bisa dihubungi seperti ini. Apa yang terjadi padanya? Kemarin dia tak mengabari apapun yang mengejutkan.

==**==
Sunny sunny, jantungku berdebar tiap kuingat padamu
Sunny sunny, mengapa ada yang kurang saat kau tak ada
Sunny sunny, melihatmu menyentuhmu itu yang kumau
Kau tak sempat tanyakan aku cintakah aku padamu
==****==

Hari pun berganti hari. Waktu berjalan sangat lamban bagiku. Dia menghilang secara tiba-tiba tanpa kabar pun dari hidupku. Sampai sekarang nomer handphone nya tidak bisa dihubungi lagi. Dari Januari, Februari, Maret, April hingga sekarang aku tlah berada di kelas dua belas dia tak kunjung datang atau mengabariku.

Kemana dia? Apa kabarnya? Ingatkah dia tentangku? Apakah dia juga merinduiku disana?

Aku masih tetap disini untuk menunggumu. Aku ingin tahu bagaimana perasaanmu terhadapku. Kau tak pernah mengatakan hal itu padaku. Aku berharap lebih jika kita dipertemukan kembali.

Mengapa kau jahat sekali? Membiarkanku disini dengan harapan-harapan ini. Dengan setumpuk rasa rindu ini, kau menyiksaku perlahan-lahan. Cepatlah datang. Aku selalu menunggumu disini, Dika Pratama.

Inikah yang dinamakan cinta? Cinta yang bisa membuat semua orang nampak bodoh.

==***==
Tiap kali aku berlutut, aku berdoa, suatu saat kau bisa cinta padaku.
====***====

‘suatu saat’ itu tak akan pernah datang padaku. Waktu yang kunanti tak pernah kutemui. Waktu itu hanya harapan kosong. Justru ‘suatu saat’ yang datang itu adalah ketika aku melihatmu menggandeng erat tangan seseorang yang telah kau pilih, dan itu bukan aku.

“Syifa” dia menyunggingkan senyum tanpa tahu rasanya aku sekarang.

Seandainya aku bisa memutar waktu, tak akan aku berada di tempat ini, tempat yang dulu kau dan aku datangi hanya berdua sebagai teman, ya tak lebih dari seorang teman! Dan sekarang di genggaman tangannya itu, sungguh api cemburu telah menyulut hatiku.

“Apa kabarmu? Maaf untuk waktu itu aku menghilang tiba-tiba tanpa mengabarimu terlebih dahulu”

Aku memaksa bibirku menyunggingkan senyum. Mungkin senyum kecut yang terlihat. Ingin memalingkan muka, membuang wajahku yang sedang memerah. Mataku pun hampir penuh dengan cairan bening. Tuhan, ini sangat menyayat hatiku.

“Kamu sendiri disini? Ah iya, kenalkan ini Alviana”

Perempuan yang memakai jepitan pita pada rambutnya itu menjabat tanganku dengan senyum ramahnya. Kutelan ludah mentah-mentah. Dia lebih cantik dariku, mungkinkah itu sebabnya dia meninggalkanku disini sendiri dan memilih perempuan lain?

Aku melirik jam tanganku. Pukul dua siang.

“Maaf ya, aku harus pergi dulu. Ada jam kuliah”

Segera bergegas meninggalkan mereka. Mengapa kita dipertemukan disaat seperti ini. Saat kau telah bersama dengan orang lain. Saat aku terjebak dengan harapan-harapan itu. Saat aku masih dengan rasa yang sama seperti kemarin kau meninggalkanku tanpa kabar. Saat aku merindu kebersamaan kita dahulu, bercanda tawa, bermain bersama, hunting, dan lain-lain. Mengapa harus begini?

Dadaku bergitu sesak melihat semuanya. Aku pun mengarahkan motorku pada rumah Bebi, sahabatku semenjak SMA.

“Syif, kamu kenapa?”

==***==

“Mau ice cream?” tawarnya

Aku segera mengangguk dengan senang. Dia pun membelikan sebuah ice cream untukku. Sore itu kami menghabiskan waktu bersama di sebuah taman kota yang ramai oleh para insan-insan muda.

Sambil menikmati ice cream, aku melihat-lihat keadaan sekitar taman ini. Berbagai bunga tumbuh bermekaran dengan indahnya. Tetapi mataku terhenti pada sejoli yang tak jauh dari tempatku duduk, dan mungkin aku baru menyadari jika mereka telah disana.

Apakah dia menyadarinya jika aku sedang mengawasi mereka? Sehingga dia menoleh padaku? Matanya bertemu dengan mataku sekejap. Mata teduh itu. Aku hanya bisa memandanginya dari kejauhan. Dika. Seseorang yang menjadi cinta pertamaku disana dengan seseorang yang dipilihnya. Dan aku disini dengan seseorang yang juga telah kupilih.

“Sayang lihat apa?” dia membuyarkan lamunanku

“Eh, apa? Eh, nggak apa-apa kok”

Aku menyandarkan kepalaku pada bahunya. Aku akan melewatkan waktu bersama orang yang aku sayang, Dika. Entah ini kesengajaan atau bukan, aku tak peduli. Sekarang aku akan menghabiskan waktu dengannya, Dika, bukan Dika cinta pertamaku, yang aku nanti-nanti selama ini tapi malah memilih orang lain. Namun pada Andika Reza Putra. Lelaki yang lebih tua dariku itu telah membuat hatiku jatuh padanya. Seseorang yang tak akan membuatku menanti terlalu lama, yang tidak memberi harapan-harapan kosongnya, yang tak akan meninggalkan ku begitu saja tanpa kabar, dan pastinya dia lebih baik dari seorang Dika Pratama. Aku percaya bahwa cinta pertama itu tak lebihnya dari sebuah angin, dia ada tapi tidak bisa disentuh, tidak bisa digapai dan semakin lama mengejarnya semakin dia berlalu dengan cepat. Terima kasih Dika Pratama, kau mengajarkanku arti sebuah penantian, kesabaran, dan rasa yang sangat indah ini. Semoga kau bahagia dengan jalan pilihanmu sendiri. 

0 komentar:

Posting Komentar