Aku mengenalmu ketika disebuah pesta.
Pertemuan secara tidak sengaja membawaku lebih dalam untuk mengenalmu malam
itu. Dan entah mengapa hati ini merasa aneh, tapi aku suka. Inikah yang
dinamakan asmara? Jika iya, dialah orang pertama yang menggetarkan hatiku
seperti ini.
“Sampai berjumpa lagi. Namaku Dika
Pratama, panggil saja Dika. Senang berjumpa denganmu”
Aku hanya tersenyum. Pertemuan singkat
namun mengapa terkesan sekali bagiku?
Hingga akhirnya nama itu yang selalu kuingat dalam hari-hariku. Tetap
saja aku tak mengerti perasaan apa yang tengah kurasa. Pertanyaan-pertanyaan
itu yang selalu muncul ketika aku mengingat nama itu.
Lucu mungkin rasanya. Sungguh
menggelitik hati. Banyak orang mengatakan bahwa masa-masa SMA adalah masa yang
paling indah. Inikah yang dimaksud dengan masa indah? Ketika malaikat cinta memberi perasaan ini.
Entahlah.
==***==
“Syifa”
Terdengar suara seseorang yang
sepertinya aku mengenalnya, memanggilku yang tengah asik dengan jejaring sosial
karena menunggu jemputan di halte sekolah.
“Dika?”
Aku terkejut. Dia dengan seragam putih
abu-abunya, semenjak kapan berdiri di ujung sana? Seberapa lama aku sibuk
dengan duniaku hingga tak sadar akan kehadirannya.
“Mau bareng pulang?”
“Makasih. Tapi besok-besok aja ya. Aku
udah dijemput”
Tampak guratan kekecewaan di wajahnya.
Namun dia menutupinya dengan senyuman. Sejujurnya aku ingin sekali menerima
tawarannya.
Hingga dua bulan semenjak pertemuan itu,
dia sering mengajakku pergi, main kerumahku dan berangkat sekolah bersama. Satu
hal yang sama diantara aku dan dia adalah penyuka komik. Jadi kami sering
bertukar komik, bahkan dia pernah membelikanku sebuah komik yang limited
edition, dan aku memang sangat menginginkannya.
Aku mulai berharap. Berharap nanti kau
akan membalas perasaanku. Menemani hariku setiap hari. Membayangkan saja sudah
membuatku senang. Yah Dika kau membuatku benar-benar gila. Aku gila karenamu.
==****===
Sore itu langit terlihat mendung. Musim
hujan telah datang di bulan Oktober. Belum sempat sampai dirumah, hujan telah
turun dengan derasnya. Aku dan Dika waktu itu kebetulan tidak membawa mantel.
Sembari menunggu hujan reda, kami mampir di cafe seberang jalan dengan nuansa
coklat tuanya.
Menghabiskan waktu dengan secangkir
coklat panas dan dengan candaan yang menghiasi sore itu.
“Eh, Dik. Sebentar lagi kan liburan
semester. Kamu liburan kemana?”
“Belum ada rencana. Mau main ama aku?”
Aku mengangguk dengan senyum. Tak akan
aku menolak ajakannya itu. Dan memang aku berharap seperti itu. Pergi berlibur
bersamamu pasti lebih menyenangkan. Tidak terasa waktu berjalan sangat cepat.
Hujan diluar sana telah reda dan sudah pukul lima sore. Waktunya pulang!
==**==
Perasaan
ini tak jauhnya dari sebuah alunan lagu. Ada nada tinggi dan nada rendah. Ada
nada dari gitar, keyboard, bass, dan drum bercampur menjadi satu dan
menciptakan irama yang indah.
===**===
Ujian semester telah usai dan liburan
telah tiba. Aku selalu menunggu waktu liburan itu. Waktu dimana aku akan
menghabiskan waktu dengan Dika, seseorang yang telah aku puja sekian lama.
“Bagaimana nilai rapor nya?” tanyanya
“Lumayan bagus. Tapi jeblok di mata
pelajaran matematika” jawabku dengan nada sedih
“Masih ada waktu untuk memperbaikinya.
Aku mau kok mengajarimu”
Aku tersenyum simpul. Dan untuk kesekian
kalinya aku tak akan menolak tawarannya.
Liburan kali ini sangat menyenangkan
bagiku. Bagaimana tidak menyenangkan jika menghabiskan sepanjang waktu dengan
orang yang kau puja? Dari mulai menghabiskan hari, hunting komik, nonton kartun
bareng, minum coklat panas di cafe, keliling kota tanpa arah, dan kegiatan lain
yang jika dilakukan orang akan terlihat biasa saja. Namun bagiku ini lebih dari
biasa.
==***==
Waktu
terus saja berjalan. Perasaan ini lambat laun semakin lebih banyak lagi seiring
dengan kebersamaanmu denganku setiap waktu. Namun bagaimana denganmu?
==***==
Liburan semester telah usai. Andai saja
liburan lebih lama lagi. Aku pasti akan lebih senang.
Pagi itu aku telah bersiap dengan
seragam putih abu-abu. Aku tak mau datang terlambat, ingin berangkat lebih
awal. Memulai semangat baru diawal semester.
Aku mengirimkan pesan singkat untuk Dika
“Aku brgkt pgi bareng ayah”.
Seusainya sarapan aku langsung berangkat
dengan sepeda motor milik ayah yang kebetulan searah dengan sekolahku ke tempat
kerjanya. Keadaan pagi itu disekolah masih sepi, masih belum banyak yang
datang. Aku melangkah dengan lenggangnya menuju kelasku yang berada disamping
kiri lapangan basket. Sesampainya dikelas malah belum ada yang datang kecuali
aku yang pertama kali datang di kelas.
Tak ada yang berubah dari kelas ini
selama dua minggu tak dihuni, hanya saja sedikit kotor. Aku menghempaskan diri
ke kursi kayu yang selama ini aku tempati dengan Bebi. Kulihat handphone dan
melihat pesan singkatku tadi belum terkirim ke Dika. Aku mencoba menghubunginya
untuk memastikan bahwa operator sedang ada pemendingan besar-besaran.
Nomer
yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Mohon periksa kembali nomer tujuan anda.
Aku bingung. Rasa khawatir pun merasukiku.
Tidak biasanya nomer hp nya tidak bisa dihubungi seperti ini. Apa yang terjadi
padanya? Kemarin dia tak mengabari apapun yang mengejutkan.
==**==
Sunny sunny,
jantungku berdebar tiap kuingat padamu
Sunny sunny,
mengapa ada yang kurang saat kau tak ada
Sunny sunny,
melihatmu menyentuhmu itu yang kumau
Kau tak sempat
tanyakan aku cintakah aku padamu
==****==
Hari pun berganti hari. Waktu berjalan
sangat lamban bagiku. Dia menghilang secara tiba-tiba tanpa kabar pun dari
hidupku. Sampai sekarang nomer handphone nya tidak bisa dihubungi lagi. Dari
Januari, Februari, Maret, April hingga sekarang aku tlah berada di kelas dua
belas dia tak kunjung datang atau mengabariku.
Kemana dia? Apa kabarnya? Ingatkah dia
tentangku? Apakah dia juga merinduiku disana?
Aku masih tetap disini untuk menunggumu.
Aku ingin tahu bagaimana perasaanmu terhadapku. Kau tak pernah mengatakan hal
itu padaku. Aku berharap lebih jika kita dipertemukan kembali.
Mengapa kau jahat sekali? Membiarkanku
disini dengan harapan-harapan ini. Dengan setumpuk rasa rindu ini, kau
menyiksaku perlahan-lahan. Cepatlah datang. Aku selalu menunggumu disini, Dika
Pratama.
Inikah yang dinamakan cinta? Cinta yang
bisa membuat semua orang nampak bodoh.
==***==
Tiap
kali aku berlutut, aku berdoa, suatu saat kau bisa cinta padaku.
====***====
‘suatu saat’ itu tak akan pernah datang
padaku. Waktu yang kunanti tak pernah kutemui. Waktu itu hanya harapan kosong.
Justru ‘suatu saat’ yang datang itu adalah ketika aku melihatmu menggandeng
erat tangan seseorang yang telah kau pilih, dan itu bukan aku.
“Syifa” dia menyunggingkan senyum tanpa
tahu rasanya aku sekarang.
Seandainya aku bisa memutar waktu, tak akan
aku berada di tempat ini, tempat yang dulu kau dan aku datangi hanya berdua
sebagai teman, ya tak lebih dari seorang teman! Dan sekarang di genggaman
tangannya itu, sungguh api cemburu telah menyulut hatiku.
“Apa kabarmu? Maaf untuk waktu itu aku
menghilang tiba-tiba tanpa mengabarimu terlebih dahulu”
Aku memaksa bibirku menyunggingkan
senyum. Mungkin senyum kecut yang terlihat. Ingin memalingkan muka, membuang
wajahku yang sedang memerah. Mataku pun hampir penuh dengan cairan bening.
Tuhan, ini sangat menyayat hatiku.
“Kamu sendiri disini? Ah iya, kenalkan
ini Alviana”
Perempuan yang memakai jepitan pita pada
rambutnya itu menjabat tanganku dengan senyum ramahnya. Kutelan ludah
mentah-mentah. Dia lebih cantik dariku, mungkinkah itu sebabnya dia meninggalkanku
disini sendiri dan memilih perempuan lain?
Aku melirik jam tanganku. Pukul dua
siang.
“Maaf ya, aku harus pergi dulu. Ada jam
kuliah”
Segera bergegas meninggalkan mereka.
Mengapa kita dipertemukan disaat seperti ini. Saat kau telah bersama dengan
orang lain. Saat aku terjebak dengan harapan-harapan itu. Saat aku masih dengan
rasa yang sama seperti kemarin kau meninggalkanku tanpa kabar. Saat aku merindu
kebersamaan kita dahulu, bercanda tawa, bermain bersama, hunting, dan
lain-lain. Mengapa harus begini?
Dadaku bergitu sesak melihat semuanya.
Aku pun mengarahkan motorku pada rumah Bebi, sahabatku semenjak SMA.
“Syif, kamu kenapa?”
==***==
“Mau ice cream?” tawarnya
Aku segera mengangguk dengan senang. Dia
pun membelikan sebuah ice cream untukku. Sore itu kami menghabiskan waktu
bersama di sebuah taman kota yang ramai oleh para insan-insan muda.
Sambil menikmati ice cream, aku
melihat-lihat keadaan sekitar taman ini. Berbagai bunga tumbuh bermekaran
dengan indahnya. Tetapi mataku terhenti pada sejoli yang tak jauh dari tempatku
duduk, dan mungkin aku baru menyadari jika mereka telah disana.
Apakah dia menyadarinya jika aku sedang
mengawasi mereka? Sehingga dia menoleh padaku? Matanya bertemu dengan mataku sekejap.
Mata teduh itu. Aku hanya bisa memandanginya dari kejauhan. Dika. Seseorang
yang menjadi cinta pertamaku disana dengan seseorang yang dipilihnya. Dan aku
disini dengan seseorang yang juga telah kupilih.
“Sayang lihat apa?” dia membuyarkan
lamunanku
“Eh, apa? Eh, nggak apa-apa kok”
Aku menyandarkan kepalaku pada bahunya.
Aku akan melewatkan waktu bersama orang yang aku sayang, Dika. Entah ini
kesengajaan atau bukan, aku tak peduli. Sekarang aku akan menghabiskan waktu
dengannya, Dika, bukan Dika cinta pertamaku, yang aku nanti-nanti selama ini
tapi malah memilih orang lain. Namun pada Andika Reza Putra. Lelaki yang lebih
tua dariku itu telah membuat hatiku jatuh padanya. Seseorang yang tak akan membuatku
menanti terlalu lama, yang tidak memberi harapan-harapan kosongnya, yang tak
akan meninggalkan ku begitu saja tanpa kabar, dan pastinya dia lebih baik dari
seorang Dika Pratama. Aku percaya bahwa cinta pertama itu tak lebihnya dari
sebuah angin, dia ada tapi tidak bisa disentuh, tidak bisa digapai dan semakin
lama mengejarnya semakin dia berlalu dengan cepat. Terima kasih Dika Pratama,
kau mengajarkanku arti sebuah penantian, kesabaran, dan rasa yang sangat indah
ini. Semoga kau bahagia dengan jalan pilihanmu sendiri.
0 komentar:
Posting Komentar